Bagi temen-temen yang bekerja disebuah instansi/perusahaan pasti sering mengalami konflik dengan atasan atau bawahan (secara setruktural). Bahkan sering kali konflik tersebut kita alami setiap hari. Dengan situasi psikologi seperti itu, pastinya rasa bête menjadi menguasai kita, apalagi tugas kita juga dikejar deadline yang mepet. Hemmm so pasti tambah bête.
Alhasil, udah bête, deadline molor, dimarahi atasan, diledekin temen sekantor, menjadi makanan setiap hari. Ya memang konflik ditempat kerja tidak bisa dihindari, pasti selalu ada disetiap situasi. Apalagi kalau kerjaan kita berkecimpung di bisnis kreativif, yang selalu dikaitkan dengan ide dan kreativitas. Lalu apa jadinya bila kerjaan kita juga diobok-obok oleh atasan atau teman kita? Pastinya jengkel kan, gak sesuai dengan ide orisinal yang mungkin udah capek-capek kita cari di toilet, duduk melamun atau sambil membaca koran.
Sekarang gak zamannya kalo bos marah-marah dengan bawahan, apalagi didepan temen sekantor. Kalo sekarang masih ada bos yang kayak gitu, anggap aja bos jadul. Kalau salah yang diandalkan marahnya (kekuasaannya), bukan solusi untuk menyelesaiakan masalah tersebut. Kini zamannya kita yang harus mampu mengubah yang “jadul” jadi “jasek” (jaman sekarang)
Jadi happy fun aja, kalau kita sering kali memunyai konflik di tempat kerja. Selain menjadikan kita lebih creative me-manage konflik juga menambah keterampilan kita untuk mencari solusi dalam memecahkan masalah. Jadi jangan ngandalin emosi aja dan jangan takut salah.
Somoga banyak konflik ya di tempat kerja!
Tidak hanya berpikir kreatif, tetapi harus juga berpikir logis dalam kenyataan. Saya teringat saat mengikuti seminar yang dibawakan oleh James Gwee disuatu kesempatan. Saat itu James membawakan tema tantang service exellence (layanan prima). Sebuah layanan yang sering didengung-dengungkan di berbagai perusahaan untuk meningkatkan kualitas layanan.
Kemudian, dari hasil seminar itu saya coba mengkaitkan dengan cerita saya ketika menginap disebuah hotel di Surabaya. Ketika saya turun dari mobil taxi bersama teman saya, seorang petugas hotel, yang kebetulan pada saat itu berada didepan pintu masuk segera menghampiri saya, menawarkan diri untuk membantu mengangkat dan membawakan tas dan barang bawaan kami. Selama kami check-in di receptionist sang petugas hotel yang membawakan tas kami setia menunggu dan setelah itu mengantar kami menuju kamar hotel di lantai 3 melalui lift. Wawan, nama petugas hotel, sangat ramah dan supel, ia tidak canggung menayakan kami dari mana, atau menanyakan mau berlibur kemana dan lain sebagainya. Setelah pintu lift terbuka, Wawan segera keluar, mengantar dan menunjukan letak kamar kami, setelah sampai ia membuka pintu kamar dan mempersilakan kami masuk dan menaruh tas kami dilemari pakaian “ beberapa kebutuhan selama anda menginap sudah kami sediakan, selamat beristirahat, semoga kami bisa melayani anda dengan baik. Jika membutuhkan sesuatu silakan menghubungi saya.” begitu ucap Wawan, setelah itu ia menutup pintu dan meninggalkan kami.
Kisah itu sangat menarik karena sangat menyetuh hati saya, yang sebelumnya tidak pernah saya pikirkan ternyata bisa saya rasakan. Perjalanan selama turun dari taxi sampai istirahat di kamar hotel, kami merasa dimanjakan dengan pelayanannya, ya, meskipun bukan sekelas hotel berbintang tetapi bagi saya sangat baik. Hanya dengan menginap di hotel yang bertarif tiga ratus ribu bisa mendapatkan pengalaman dari pelayanan hotel yang menyenangkan.
Jadi para “pelaku” itu, entah manajernya, atasannya langsung atau Wawan sendiri, meskipun tidak secara langsung juga mengemukakan berbagai fakta yang logis, membuat kemajuan terhadap ide dan masalah dengan cara menganalisa pelanggannya. Mereka menggugat atau memberontak dari asumsi-asumsi yang mungkin sudah sering dijalankan (sudah menjadi treadisi/budaya) dan mencari asumsi-asumsi baru untuk meningkatkan pelayanan dengan salah satu cara berpikir analistis.
Siapa menyangka jika dulunya bagunan itu dealer sepeda motor, tetapi sekarang berubah menjadi kedai bakso. Aku pun juga tidak pernah memikirkan hal sesederhana itu, dealer sepeda motor yang dulunya ramai sekarang justru ramai dengan pengunjung kuliner. “ada-ada saja”
Sebut saja pak Iwan (bukan nama sebenarnya) pemilik bangunan sekaligus dealer sepeda motor. Setelah penjualan sepeda motor cenderung lesu, dikarenakan banyak faktor yang memengaruhi seperti; bertambahnya dealer sepeda motor, banyaknya kompetitor motor dari China, India dan lain sebagainya, memaksa pak Iwan untuk memikirkan suatu terobosan baru guna menaikan kembali kurva bisnisnya yang cenderung menurun. Selama dua Minggu, setiap pagi Pak Iwan belajar membuat olahan daging sapi dengan seorang penjual bakso keliling. Berselang dua Minggu Pak Iwan sudah terampil sekaligus kreatif membuat olahan daging sapi dengan berbagai bentuk, bakso bulat, kotak, segitiga, bahkan ada yang sebesar bola tenes dan dalma bentuk yang lainnya.
Setelah Pak Iwan mencermati serta menganalisa olahan daging yang dibuatnya, ia tersadar, bahwa olahan daging semacam itu sudah umum di pasaran. Pak Iwan kembali berpikir untuk membuat suatu terobosan lagi dengan membuat Bakso Kepala Sapi. Rasa-rasanya Bakso Kepala Sapi memang nama yang sedikit aneh, tetapi rasanya tidak kalah sedap dengan bakso daging biasa seperti kebayakan bakso lainnya. Bakso tersebut diolah dari bagian kepala sapi, mulai dari lidah, hidung, leher bagian atas, telinga dsb dan Bakso Kepala Sapi siap menggoyang lidah bagi para pencinta kuliner.
Bermodal spanduk digital bergambar kepala sapi berukuran 4 x 5 meter, berwarna mencolok berhasil menarik perhatian orang yang melewati kedai bakso Pak Iwan. Mereka tertarik karena gambar kepala sapi yang berukuran besar, apalagi selama ini jarang yang menggunakan istilah Bakso Kepala Sapi. Sekarang, jika waktu menjelang pukul lima sore, setelah dealer sepeda motornya tutup, profesi Pak Iwan berubah menjadi penjual Bakso Kepala Sapi.
Dengan demikian Pak Iwan mampu dan mau mencoba untuk mengangkat kurva bisnisnya, sekaligus memiliki perspektif yang baru dalam melihat solusi terhadap problem yang dihadapi dengan cara yang berbeda. Ilustrasi ini memang sedikit dari sekian banyaknya contoh yang mungkin pernah kita jumpai disekitar kita, yaitu suatu ide kreatif yang sederhana.
terInspirasi dari marketing genius
Siapa menyangka jika minuman yang sehari-hari mungkin kita suguhkan kepada tamu-tamu kita dirumah dengan kondisi hangat ataupun panas bisa di”sulap” dengan menggunakan media dalam botol atau kemasan. Pernahkan kita berpikir bagaimana mungkin sebuah teh bisa kita nikmati dalam kemasan? Atau membeli segelas air putih dalam kemasan? Mungkin kita jarang memikirkannya tentang hal kecil seperti itu, karena kita tidak pernah kritis dalam menyikapi perubahan, tetapi ini adalah contoh kecil fakta dari creative thinking yang jenius.
Para pencetus ide ini sangat jenius dalam berimajinasi untuk membangun sebuah pemikiran/gagasan, yang mungkin pada awalnya ditolak oleh berbagai kalangan karena menciptakan sesuatu produk yang tidak mungkin. Melalui proses yang tidak mudah, para pencetus ide inipun akhirnya dapat membuat sesuatu yang tadinya tidak mungkin menjadi mungkin. Kembali lagi, apakah kita pernah memikirkannya?
Dengan berpikir creative setidaknya mampu membuat keputusan dan lompatan-lompatan atau terobosan bahwa hal tersebut adalah benar. Jadi ide-ide orisinal tersebut tidak berhenti begitu saja, tetapi yang lebih penting adalah creative untuk mau melihat berbagai kemungkinan-kemungkinan yang akan terjadi dikemudian hari dengan visi jauh kedepan dan sekaligus berusaha mewujudkannya dengan nyata.
Sadarkah kita, mulut yang kita miliki bisa menyanjung orang lain atau juga dapat menyakiti orang lain. Mulut itu tanjam, bila digunakan dengan cara yang benar dapat memengaruhi pikiran orang lain untuk mengikuti sesuai kehendak kita.
Ada cerita menarik ditempat tinggal saya.
Mbah Minah adalah penjual tahu lontong. Sejak usia saya mampu mengingat tempat dimana mbah Minah jualan tahu lontong, sampai sekarang kalau pulang ke kampung saya selalu menyempatkan mampir ke warungnya. Warungnya sederhana, hanya numpang di teras toko milik orang lain, buka malam hari setelah toko itu tutup, dan memakai lampu sentir minyak tanah.
Mungkin sekarang usianya sudah kepala 7, namun semangatnya masih bisa diacungi jempol. Siapa yang tidak tahu, tahu lontong pojok pasar Garum, Blitar, mbah Minah. Orang sekampung pada tahu, kalau tahu lontong mbah Minah sudah lintas generasi. Mulai dari nenek saya, ayah saya, saya sendiri, sampai yang berusia dibawah saya masih mampu merasakan khasnya tahu lontong mbah Minah.
Mbah Minah sama sekali tidak mengenal istilah marketing, apalagi promosi atau mouth to mouth promotion. Yang mbah Minah tahu, rasa tahu lontongnya digemari banyak orang. Siapa sangka hanya berbekal promosi omongan tetangga dari mulut ke mulut, sampai sekarang tahu lontong mbah Minah terkenal sampai lintas generasi.
Mulut memang ajaib, lalu mau kita gunakan untuk apa? membicarakan hal-hal positif atau negatif? Hmm…sepertinya sebuah pilihan buat kita? Semoga saja kita dapa memanfaatkan kelebihan kita untuk hal yang positif.