Sistem Royalty dan Beli Putus Naskah Buku

imagesbookSistem Royalty dan Beli Putus Naskah Buku

Banyak temen-temen yang bertanya, jika saya ingin menerbitkan buku, saya harus membayar berapa? Bisanya saya selalu menjawab “gratis”. Eh temen saya malah melongo.

Secara umum ada beberapa sistem dalam kerjasama penerbitan buku, antara lain:

  1. Naskah buku dibeli putus oleh penerbit. Maksudnya adalah naskah dari penulis langsung dihargai (dibeli) oleh penerbit. Tentu saja negosiasi harga sebuah naskah harus sesuai dengan kesepakatan antara penulis dan penerbit. Untuk itu penulis tidak mendapat royalty. Kesepakatan/kerjasama sistem beli naskah putus tiap penerbit tidak sama, tergantung dari kebijakan masing-masing penerbit.
  2. Naskah buku dengan sistem royalty. Royalty adalah pembagian dari hasil penjualan buku. Besaran royalty di Indonesia rata-rata 10% dari harga buku (bruto). Misal; jika harga buku Rp10.000,-/eksemplar maka penulis akan mendapatkan royalti sebesar Rp1000,-/eksemplar. Pada umumnya royalty diberikan setiap semester. Namun ada juga penerbit yang membayarkan royalty lepada penulis dimuka, artinya sebelum buku terjual penulis sudah mendapatkan royalty terlebih dahulu. Besaran pembayaran royalty tergantu kebijakan penerbit. Maka dengan sistem ini penulis tidak dibebani biaya produksi.
  3. Naskah buku dengan sistem subsidi. Dalam hal ini penerbit dan penulis atau mungkin ada sponsor, bekerjasama mendanai biaya pembuatan buku, sehingga memungkinkan harga buku lebih murah.

Namun dari ketiga contoh sistem kerjasama penerbitan buku ini, masing-masing memiliki kelebihan dan kekurangan, tinggal bagaimana kebijakan penulis dan penerbit menegosiasikannya.

Proses Umum Penerbitan Buku

diagram umum proses penerbitan buku

Proses Umum Penerbitan Buku

  1. Naskah Buku/Mengirim Naskah Buku.

Naskah buku bisa berasal dari seorang penulis atau hunting naskah baik dari dalam maupun luar negeri (buku terjemahan).

Jika naskah buku berasal dari seorang penulis lokal biasanya naskah dikirim langsung ke penerbit, misal: Gramedia Pustaka Utama, Grasindo, Elexmedia, Erlangga, Kanisius, Dioma, Galangpress, penerbit Kompas dll. Pada umumnya pihak penerbit mensyaratkan pengiriman naskah dalam bentuk print out dan soft copy (dalam CD atau DVD).

Untuk memudahkan proses penerimaan naskah, penulis perlu menyertakan data pribadi secara lengkap dan ringkasan tentang isi dari naskah tersebut. Lebih lengkap lebih baik. Jangan lupa memberikan catatan tentang point of sales dari nakah buku yang dikirimkan, sehingga pihak redaksi bisa segera memproses/menyeleksi naskah tersebut. Penulis tinggal menunggu beberapa minggu untuk menanti jawabkan dari redaksi, apakah layak diterbitkan atau tidak. Jika proses menunggu terlalu lama tidak ada salahnya kalau anda proaktif menghubungi pihak penerbit.

  1. Penerbit Buku.

Setelah naskah diterima oleh penerbit, maka naskah tersebut akan diseleksi oleh pihak redaksi. Redaksi akan menilai apakah naskah tersebut layak terbit atau tidak. Naskah yang layak terbit tergantung dari penilaian redaksi, misal; apakah naskah tersebut sesuai dengan visi dan misi penerbit? Apakah marketable dengan kondisi pasar sekarang? Dll. Sebagai contoh: naskah buku pelajaran sekolah lebih cocok dikirimkan ke penerbit yang memang konsen/memiliki visi misi di dunia pendidikan, misalnya penerbit Erlangga, Grasindo, Intan Pariwara, dsb. Jadi penulis juga perlu tahu, kira-kira naskahnya sesuai diterbitkan di penerbit mana? Untuk mencari info penerbit bisa melalui internet, googling, atau alamat penerbit buku.

Jika naskah tersebut layak terbit maka penulis akan dihubungi penerbit, selanjutnya akan dibuatkan MOU kerjasama penerbitan antara Penerbit dan Penulis.

Jika naskah tidak layak terbit, akan dikembalikan oleh penerbit ke penulis. Namun, jangan berkecil hati. Naskah yang dikembalikan belum tentu tidak layak terbit, karena itu penilaian dari satu penerbit. Coba tawarkan ke penerbit lain, mungkin naskah tersebut sesuai di penerbit lain. Sebagai saran; jangan pernah mengirimkan naskah anda dengan judul dan isi yang sama ke banyak penerbit, karena dapat menyulitkan penulis jika ternyata naskah tersebut diterima oleh lebih dari satu penerbit. Kedua, jangan pernah mengirimkan naskah buku yang sudah pernah diterbitkan oleh penerbit yang masih dalam ikatan kontrak, bisa jadi nama anda akan di blacklist oleh penerbit.

  1. Proses Editing Naskah

Andaikan naskah anda sudah diterima dan akan diterbitkan oleh penerbit. Jika ya, anda pasti sudah menandatangi surat perjanjian kerjasama penerbitan buku. Baca secara seksama, agar anda juga mengetahui segala hak dan kewajiban yang nantinya akan anda patuhi dan terima. Jika dalam point perjanjian ada pasal-pasal yang tidak sesuai dengan keinginan anda, anda bisa menegosiasikan dengan pihak penerbit sehingga perjanjian dapat menguntungkan kedua belah pihak. Selanjutnya naskah anda akan diproses kembali melalui editing dan setting. Seiring berjalannya proses editing dan setting naskah, pihak penerbit juga menyiapkan cover buku untuk buku anda.

Setelah semuanya selesai, selanjutnya tinggal menunggu proses cetak di percetakan. Penulis tinggal menunggu hasil dari karya intelektualnya.

[semoga bermanfaat]

Belajar Konsep Desain

bulbMendesaian sebuah layout sebuah media informasi (booklet, brochure, flier, tabloid, dll) memang tidak mudah. Ternyata butuh modal dasar untuk yang memang tidak gampang. Salah satunya dengan menggunakan konsep dasar 5 W ( What, Why, Who, When, Where) dan 1 H (How), begitulah share dari temen-temen desainer.

  1. WHAT, apa tujuan desain tersebut? Menetapkan tujuan sangat penting karena tanpa tujuan pesan yang akan disampaiakan akan tidak tersampaiakan.
  2. WHY, mengapa media informasi ini penting untuk audience?
  3. WHO, siapakah target audience-nya/pembacanya?
  4. WHEN, kapan waktu yang tepat untuk mempublikasikan media informasi.
  5. WHERE, dimana dapat meletakan/memasang media informasi supaya mudah dibaca oleh terget audience.
  6. HOW, bagaimana cara menyampaiakannya pesan agar dapat cepat diterima oleh target audience.

Biasanya sebelum desainer memulai sebuah proses mendesain sebuah media informasi ataupun buku ada proses creative brief, dari atasan atau pihak yang terkait/pemesan, yang fungsinya sama dengan konsep desain, namun tertuang dalam bentuk tulis. Pada prinsipnya seorang desainer akan lebih cepat bekerjanya jika mendapat informasi secara lengkap. Sehingga nantinya dapat tertuang dalam desain yang begitu menarik dan pesan dari informasi itu dapat sampai ke target audience. (Semoga bermanfaat)

Seperti Kisah di Calcutta

teresaSeperti Kisah di Calcutta

Ibu Teresa pernah bermimpi, Santo Petrus menghalanginya masuk ke surga. Penjaga pintu surga itu membentaknya keras, “Enyahlah kamu. Di surga ini tidak tersedia tempat-tempat kumuh!”

Ibu Teresa marah. Ia membalas menjawab, “Baiklah, akan kupenuhi surga dengan gelandangan dan penghuni-penghuni tempat kumuh sebanyak-banyaknya, sampai aku sendiri memunyai hak untuk memasukinya”. …

Begitulah penggalan cerita yang ditulis oleh romo Sindhunata SJ. Dari buku Segelas Beras Untuk Berdua penerbit Kompas.

Cerita tersebut menggambarkan suatu realita kehidupan, masih banyak disekitar kita yang membutuhkan uluran tanggan kita, namun terkadang kita menutup mata.

Suatu pagi aku mengunjungi toko buku Gramedia di Jalan Basuki Rahmat Malang. Saat aku berada di lantai dua dan melihat kearah bawah dari dinding kaca, beberapa bule dari Negeri Belanda membagi-bagikan bingkisan kepada beberapa anak-anak jalanan. Anak-anak itupun melonjak-lonjak kegirangan sambil mengakat-angkat bingkisannya. Yah, mungkin hanya ada rasa gembira yang ada dihatinya. Mereka amat menyukuri berkat dari tutup-tutp botol minuman ringan yang ia jadikan alat music bisa menjadikan sesuatu yang amat menggembirakan. Suara alat music yang mengiringi suara fals mereka, yang terkadang sangat memekakan telinga sungguh menjadikan mereka bahagia.

Dihimpit oleh bangunan-bangunan tinggi di pertokoan Kayutangan Malang, tidak sedikit kaum marginal yang sibuk bergulat dengan keringatnya. Tukang becak, penjual jamu gendong, penjaja koran jalanan dan antrian microlet sering mangkal di depan toko OEN yang sering dikunjungi tourist yang kebanyakan berasal dari negeri Belanda. Gereja Katolik Hati Kudus Tuhan Yesus yang berdiri megah bersebelahan dengan restoran sepat saji McDonald juga tidak kalah megahnya menghiasi tata kota. Tetapi disinalah yang tidak disadari bagi banyak orang, yaitu muncul kebahagiaan bagi anak-anak jalanan, terutama pada hari itu, hari dimana aku bisa melihat karya Tuhan yang membagikan tubuhNya.

Modernisasi bagi sebagian kaum ini tidak membuat surut dalam berjuang menghadapi tantangan hidup. Malah menjadikan modernisasi sebagai tantangan yang harus dihadapi dan diperjuangkan. Dinding-dinding beton kokoh yang menghimpit rumah kardus justru menjadikan surga bagi meraka, karena ada sedikit berkat dari modernisasi. Tidaklah mungkin Tuhan menciptakan mahkluk hidup jika akan diterlantarkan.:-)

Lonceng Gereja dan Dering Handphone

bellMenarik kalau kita mengamati disekeliling kita, tatkala kita mengikuti sebuah perayaan ekaristi/misa di gereja, tiba-tiba  terdengar dering handphone. Ironisnya yang merasa memiliki handphone justru tersenyum ataupun tertawa  pelan mendegar suara dering, dengan entengnya menjawab hallo!

Peristiwa diatas mungkin sering kita jumpai dibeberapa gereja, terlebih di gereja-gereja di kota besar. Rasa khusuk/sakral terhadap perayaan ekaristi semakin lama semakin tenggelam. Namun itu semua menjadi tanggung jawab kita sebagai umat kristiani. Bukankah kita tidak mau mengganti deantang lonceng gereja dengan dering HP?